Upaya KKI Sejahterakan 7.000 Anggota

Angka kemiskinan terus bertambah seiring dengan minimnya upaya pemerintah dalam melakukan pemerataan pendapatan masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di pinggiran kota seperti di Cilincing, Jakarta Utara.Berdasarkan data yang diperoleh Koperasi Kasih Indonesia (KKI) dari Badan Penanggulangan Kemiskinan, Cilincing merupakan wilayah yang tergolong paling miskin di Jakarta.

Kondisi tersebut ternyata mampu memanggil jiwa seorang pemuda kelahiran 28 Juli 1985 Leonardo Kamilius untuk mendirikan koperasi simpan pinjam yang diperuntukkan bagi masyarakat Cilincing sebagai upaya mengurangi angka kemiskinan serta menjauhkan masyarakat dari jeratan para rentenir. Melihat kondisi sosial yang membutuhkan perhatian, Leon merasa terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan terhadap kondisi di negerinya tersebut. Di usia yang masih terbilang muda yaitu 25 tahun, dirinya berani mengambil sebuah keputusan untuk berhenti bekerja di sebuah perusahaan internasional.

Keputusan untuk keluar dari pekerjaannya tersebut terdorong oleh keinginan untuk fokus memperhatikan masalah sosial yang terjadi di Jakarta. Namun, saat itu Leon belum memiliki ide untuk membuat sebuah perubahan di sektor ekonomi warga Cilincing. Terinspirasi dari Grameen Model yang digagas oleh seorang pemenang nobel di bidang ekonomi Muhammad Yunus, Leonardo Kamilius bersama temannya Bruder Petrus Partono dan Lucyana Siregar mendirikan Koperasi Kasih Indonesia (KKI) pada tahun 2011.


Modal awal yang digunakan Leon untuk mendirikan koperasi berasal dari kantong pribadinya sebesar Rp50 juta. Langkah awal Leon tersebut menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk ikut terlibat dalam kegiatan sosial tersebut. Banyak teman yang merasa simpati kepada Leon karena berani mengambil keputusan untuk terjun menyelesaikan masalah sosial dalam usia sangat muda.

Donasi pun dapat terkumpul hinggal Rp2 miliar pada dua tahun pertama sejak KKI didirikan. Adapun, sistem yang dilakukan KKI dalam menjalankan koperasi ialah dengan sistem menjemput bola atau terjun ke lapangan untuk melakukan sosialiasi kepada warga Cilincing. Dalam proses sosialisasi tersebut, KKI juga mengedukasi masyarakat tentang perilaku ekonomi yang perlu ditingkatkan guna melawan kondisi ekonomi yang terpuruk di wilayah tersebut.

Pola yang digunakan KKI dalam mengedukasi anggotanya, yaitu dengan membentuk kelompok yang terdiri dari para anggota koperasi untuk kemudian dikumpulkan di rumah para anggota secara bergiliran. Mayoritas anggota yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga dibimbing untuk lebih peka terhadap kebiasaan menabung dengan cara-cara yang sederhana, seperti mengumpulkan sisa uang belanja dan sebagainya.

Kemudian anggota diarahkan untuk menabung dan meminjam uang di KKI dengan sistem pinjaman kelompok yang dapat digunakan untuk keperluan hidup, seperti membuka usaha, biaya sekolah, dan berbagai kebutuhan mendesak lainnya.

Sistem edukasi yang dilakukan KKI tersebutlah yang mampu membedakan KKI dengan koperasi lainnya sebab lembaga keuangan mikro pada umumnya hanya memberikan pinjaman dan tabungan. Adapun, KKI dapat memberikan pinjaman, tabungan, sekaligus edukasi.

Bagi Sandra Surya, yang bertanggung jawab terhadap pengembangan KKI, melakukan perubahan adalah dengan melalui pola pikir masyarakat. Hal tersebut mengingat tujuan KKI yang didirikan untuk membawa masyarakat kurang beruntung keluar dari garis kemiskinan secara permanen melalui perubahan pola pikir dan perilaku.

Kemudian dalam sistem menabung, KKI memiliki dua jenis tabungan, yaitu tabungan sukarela dan tabungan wajib. Tabungan wajib dibayarkan beserta cicilan per minggu setelah anggota meminjam. Kemudian dari cicilan tersebut juga sudah termasuk tabungan yang akan dikembalikan setelah 25 minggu atau 25 kali cicilan.

Dengan tabungan yang tidak disadari tersebut, akhirnya para anggota memiliki kemauan untuk menabung sukarela yang dapat diambil kapan saja. Bagi Sandra, wanita kelahiran 6 Mei 1986 tersebut, KKI akan menerima tabungan meski hanya seribu rupiah karena yang terpenting baginya bukan jumlah tabungan, namun kebiasaan menabung yang harus terus dipupuk.

Di dua tahun pertama KKI berdiri, jumlah anggota atau nasabah koperasi baru mencapai 600 orang anggota. Tentu menjadi kondisi yang sulit untuk mengembangkan sebuah koperasi. Kemudian Leon bertanya kepada teman-temannya mengenai langkah koperasi selanjutnya, atau mungkin dengan menutup koperasi sebagai jalan keluar mengingat pertumbuhan bisnis koperasi yang masih sangat rendah.

Sampai pada akhirnya, Leon bersama teman-temannya memutuskan untuk menargetkan jumlah anggota pada tahun berikutnya untuk bisa sampai pada jumlah 2.000 orang anggota. Jika target yang sudah ditentukan tersebut tidak juga tercapai maka menutup koperasi adalah jalan keluar terakhir yang harus diambil. Namun fakta berkata lain, di tahun berikutnya jumlah anggota bahkan melewati jumlah yang sudah ditargetkan, yaitu menembus hingga 3.000 anggota.

KKI pun batal ditutup dan saat ini masih terus beroperasi dengan total anggota sebanyak 7.000 orang (2016) dengan jumlah revenue Rp374 juta setiap bulannya.

https://www.wartaekonomi.co.id/read129892/kki-sebagai-pejuang-kemiskinan-di-ujung-jakarta.html
Penulis: Ning Rahayu