Ibu Dasirih

Mimpi Keluarga, Tanggung Jawab Bersama

“…KKI ini tidak akan saya lepas. Saya dapat ilmu dari KKI dan saya jadi makin semangat menabung…”

Sekarang kalau dijumlahkan, total tabungan Ibu kira-kira ada berapa?” tanya petugas KKI saat berkunjung ke rumah Ibu Dasirih di Gang Bebek, Cilincing. Sejenak Ibu Dasirih terdiam. Ia mengeluarkan sepuluh jari tangannya seraya berkomat-kamit menghitung jumlah tabungannya yang tersebar di beberapa tempat. “Yaaa…kurang lebih 21 juta ada, Bu,” jawab Ibu Dasirih perlahan.

Ibu Dasirih adalah salah satu anggota KKI yang mengalami kemajuan hidup cukup pesat, baik dalam usaha maupun kesejahteraan keluarga. Sudah 7 periode (3,5 tahun) Ibu Dasirih menjadi anggota KKI. Usahanya sekarang adalah berdagang warungan.

Awal Mula Usaha

Ibu Dasirih tinggal di rumah kontrakan bersama dengan suami dan ketiga anaknya. Awal mula usaha Ibu Dasirih dirintis dengan modal 50 ribu rupiah. Itu pun karena terpaksa. Sebelumnya ia tidak bekerja.

Tahun 2009, suami Ibu Dasirih diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja jatuh bangkrut. Beruntung saat itu Ibu Dasirih masih punya tabungan. Namun, pada tahun yang sama pula kedua anaknya harus mendaftar sekolah. Anak pertamanya masuk SMK dan anak keduanya masuk SMP. Ditambah lagi, adik Ibu Dasirih akan berangkat menjadi TKI di Malaysia. Ibu Dasirih lah yang membantu persiapan keberangkatannya. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan saat itu. Akhirnya, dikuraslah seluruh isi tabungan hingga bersih tak bersisa.

Suatu hari, Ibu Dasirih mendapati uang di dompetnya tersisa 50 ribu saja. Ia lalu berpikir bagaimana caranya uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga hari itu hingga seterusnya. Uang itu lalu dibawa ke Pasar Kalibaru. Pergi dengan menggandeng putri bungsunya yang masih SD, pulang dari pasar Ibu Dasirih membawa kantong plastik berisi cetakan dari logam, terigu, telur, dan bumbu-bumbu.

Sesampainya di rumah, Ibu Dasirih memulai usaha pertamanya dengan berjualan martabak telur. Ia membuka ‘warung’ perdananya di depan rumah kontrakan dengan bermodalkan sebuah meja. Beberapa bulan setelah usahanya berjalan, Ibu Dasirih mencoba menambah dagangan. Dari keuntungan usahanya, ia mulai bisa kulakan minuman gelas dan makanan ringan. Keuntungan hasil usaha terus diputar ulang.

Perkenalan dengan KKI

Tahun 2012, Tuhan mempertemukan Ibu Dasirih dengan KKI melalui Ibu Nining. Ibu Nining adalah salah satu petugas KKI yang mendatangi warungnya dan menawarkan pinjaman modal usaha. Pinjaman awal saat itu sebesar 500 ribu rupiah. Oleh Ibu Dasirih, uang itu dipakai untuk membeli freezer dengan tambahan uang dari hasil menjual gelang. Ia lalu menambah usahanya dengan berjualan es lilin.

Modal usaha terus diputar untuk menambah penghasilan. Beberapa tetangga bahkan ada yang mengambil es lilin darinya untuk dijual keliling. Sore hari, mereka mengembalikan termos-termos es ke Ibu Dasirih sekalian menyerahkan setoran uang. “Gimana caranya gelang saya harus bisa saya beli lagi. Makanya saya target sehari harus nyelengin,” kata Ibu Dasirih bersemangat saat bercerita tentang target menabung dan obsesinya. Ia ingin sekali membeli gelangnya kembali.

Tabungan KKI, Paket Lebaran, dan Si Macan

Di KKI, Ibu Dasirih rajin menabung di Tabungan Pribadi setiap seminggu sekali. Selain di KKI, sejak dulu Ibu Dasirih sudah menabung di Paket Lebaran (Palem) dan celengan di rumah. Tabungan tersebut tidak kemudian ada seketika Ibu Dasirih memulai usaha. Awal mula membuka usaha, uang modal terus diputar. Sisanya dipakai untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Waktu itu belum ada cukup uang untuk ditabungkan. Baru setahun setelah menjalankan usaha, Ibu Dasirih mulai bisa menabung. Ia ikut Paket Lebaran (Palem) yaitu fasilitas dimana uangnya akan dicairkan setahun kemudian, biasanya saat menjelang Lebaran.

Tahun pertama, Ibu Dasirih memulai tabungan Palemnya dengan setoran 3 ribu per hari. Setiap tahun ia tingkatkan jumlah tabungannya hingga di tahun kelima, karena sudah tidak ada lagi tanggungan membayar kontrakan, Ibu Dasirih memberanikan diri menabung di Palem 40 ribu per hari per hari. Dengan setoran harian sebesar itu, setelah setahun Ibu Dasirih akan menerima uang tabungan sekitar 13 juta rupiah. Jumlah yang lumayan.

Merasa usaha yang dijalankannya sudah cukup aman, Ibu Dasirih menaikkan target menabungnya. Ia selalu menyisihkan 10 ribu per hari untuk dimasukkan ke dalam celengan berbentuk macan. Setiap hari tidak pernah absen Ibu Dasirih memberi makan ‘macannya’. Ketika ditanya saat itu penghasilan hariannya kisaran berapa, ia tidak bisa menjawab. Ia tidak pernah benar-benar menghitung penghasilan hariannya. Ramai ataupun sepi, setiap hari ia mengharuskan dirinya menyisihkan 10 ribu untuk dimasukkan ke celengan macan.

Celengan macan milik Ibu Dasirih terbuat dari semen dengan ukuran cukup besar. “Celengan ini hanya dibongkar setahun sekali, Bu. Pas mau Lebaran kami sekeluarga berkumpul membongkar celengan ini dan menghitung uangnya bersama-sama,” kata Bu Dasirih menjelaskan pada petugas ritual tahunannya yang unik. “Sudah 2 kali celangan ini dibongkar. Setelah itu, suami saya menutup kembali lubangnya dengan semen,” kata Bu Dasirih sambil menunjukkan celengan macannya. Ia menambahkan, “Setelah uangnya dihitung bersama, kami sekeluarga bermusyawarah uang itu akan dipakai untuk apa.” Jadi, macan itu adalah celengan keluarga Ibu Dasirih yang sarat akan kenangan dan perjuangan.

Prestasi dari Segi Nilai dan Materi

Biarpun bukan dari keluarga yang serba berkecukupan, bagi Ibu Dasirih urusan pendidikan menjadi hal nomor satu. Apapun akan ia upayakan demi pendidikan anak-anaknya. Terbukti di tahun 2009, ia rela menguras habis isi tabungannya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Selain urusan sekolah, Ibu Dasirih juga menularkan semangat menabungnya ke anak-anaknya. Masing-masing anak memiliki sebuah celengan untuk menyisihkan uang jajan. Ibu Dasirih tidak pernah memanjakan anakanaknya, termasuk soal belanja. Hanya setahun sekali Ibu Dasirih membelikan baju baru anak-anaknya, kecuali baju seragam sekolah. Di luar itu, jika anak-anaknya menginginkan baju baru atau barang-barang pribadi yang lain, mereka didorong untuk menabung terlebih dulu. Dengan cara itu Ibu Dasirih memberikan kebanggaan dan membentuk mental kemandirian anak-anaknya. Tentu berbeda rasanya memiliki sepeda dari hasil menabung sendiri dengan sepeda pemberian orangtua. Anak-anak akan merasa lebih bangga dan lebih menyayangi barang-barangnya.

Selain membentuk keteladanan, rutinitas menabung yang dilakukan Ibu Dasirih sangat membantu mempercepat peningkatan perekonomian keluarga. Ia jadi bisa menabung dan memutar uang untuk keberlanjutan usaha. KKI percaya, segala upaya yang bertujuan baik pasti tidak akan siasia. Ibu Dasirih membuktikannya. Dalam waktu 5 tahun, bahkan saat usahanya benar-benar dimulai dari nol, ia sudah bisa mewujudkan rumah pribadinya. Selain itu, tiga buah freezer kini turut melengkapi isi rumahnya berikut tiga sepeda motor yang dibelinya secara kontan.

Sebelumnya, bertahun-tahun mereka hidup mengontrak. Suatu ketika sang pemilik kontrakan mengatakan bahwa periode berikutnya rumah itu akan dikontrakkan ke orang lain. “Saya sedih. Sudah lama kami tinggal di situ. Kalau ada tembok yang rusak, kami yang benerin. Kami bahkan beli urug untuk meninggikanrumah kontrakan itu agar tidak terkena banjir. Kami sudah anggap rumah itu seperti rumah sendiri,” kata Ibu Dasirih. “Makanya begitu dengar pemilik kontrakan bilang begitu, saya berniat harus bisa punya rumah sendiri. Biar jelek yang penting punya sendiri,” tambahnya. Itulah peristiwa yang memantik Ibu Dasirih untuk mewujudkan rumahnya.

Akhirnya, di akhir tahun 2014 lalu Ibu Dasirih dan keluarganya berhasil mewujudkannya. Perjuangannya tidak sederhana. Rumah itu tidak langsung sekali jadi. Saat ditempati, temboknya masih berupa bata susun, lantainya masih semen kasar, dan atap plafonnya belum ada. Semua disempurnakan secara bertahap sembari rumah itu ditempati. Suami dan anak-anaknya tidak enggan ikut mengangkat pasir dan batu. Pekerjaan tidak diserahkan seluruhnya ke tukang. Mereka pun ikut membantu menyelesaikan. Bersyukur saat masa kontrak rumah selesai, Ibu Dasirih dan keluarga bisa langsung pindahan ke rumah baru mereka.

Kedan dan Harapan untuk KKI

“KKI ini tidak akan saya lepas. Saya dapat ilmu dari KKI dan saya jadi makin semangat menabung,” kata Ibu Dasirih ketika ditanya kesannya tentang KKI. “Setelah gabung di KKI, saya jadi berpikir: Iya juga; bener juga ilmunya. Orang hidup memang harus begitu (disiplin, usaha keras, jujur, rajin berdoa, dan hidup sederhana),” tambahnya. Selain itu, semangat keluarga juga menjadi pemicu. Ketika keluarga kompak untuk diajak maju bersama, saat itulah mimpi keluarga menjadi lebih dekat untuk diwujudkan. Ia bersyukur dipertemukan dengan KKI. Sebelum mengenal KKI, Ibu Dasirih memang sudah belajar menabung. Begitu bertemu KKI, ia menjadi semakin berani bermimpi.

Semoga mimpi-mimpi Ibu Dasirih dan keluarganya bisa tercapai!