Ibu Rotua

Kunci Kesuksesan adalah Motivasi

“…POKOKNYA SELAGI KAKI INI MASIH SANGGUP JALAN, SAYA AKAN MASIH SEMANGAT JUALAN…”

Berjalan kaki dari gang ke gang adalah aktivitas rutin yang dilakukan Ibu Rotua setiap hari. Dari pagi hingga petang tiba, ia berkeliling di daerah Kalibaru mendatangi rumah-rumah untuk mengambil setoran sekaligus menawarkan baju. Usaha yang dijalankannya adalah bisnis kreditan baju. Tak kenal lelah ia bekerja. “Pokoknya selagi kaki ini masih sanggup jalan, saya akan masih semangat jualan,” kata Bu Rotua saat ditemui di rumahnya.

Ibu Rotua adalah salah satu anggota KKI yang sangat bersemangat bekerja dan berjuang meraih mimpi-mimpinya. Berasal dari Sumatera Utara, pada tahun 2000, ia dan suami hijrah ke Jakarta. Mereka kemudian tinggal di Kalibaru hingga sekarang bersama dengan kedua putrinya. Keluarga Ibu Rotua sangat kompak dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bertahun-tahun suaminya bekerja sebagai supir angkot sedangkan Ibu Rotua tinggal di rumah mengurus rumah tangga. 

Menjadi Anggota KKI

Tahun 2011 pertama kali menjadi anggota KKI, Ibu Rotua mengajukan pinjaman untuk suaminya. Saat itu ia belum menjalankan usaha kreditan baju. Pinjaman itu rencananya akan dipakai suaminya untuk membuat SIM B2 (SIM untuk pengendara truk besar). Saat itu suaminya bekerja sebagai supir angkot. Merasa penghasilan dari narik angkot hanya pas-pasan, suami Ibu Rotua ingin merubah haluan dengan menjadi supir truk. Untuk itulah ia memerlukan SIM B2.

Melihat semangat kuat yang ditunjukkan suaminya, Ibu Rotua sangat mendukung. KKI pun menyetujui dicairkannya pinjaman untuk Ibu Rotua. Pinjaman pertama yang diberikan KKI saat itu sebesar 500 ribu rupiah. Biaya pembuatan SIM B2 sekitar hampir 800 ribu. Jadilah uang pinjaman dari KKI seluruhnya dipakai untuk membuat SIM dan kekurangannya ditutup dari sedikit uang simpanan yang mereka miliki.

Setelah memiliki SIM B2, suami Ibu Rotua beralih profesi menjadi supir truk. Ia membawa truk besar dari Jakarta ke Medan. Penghasilan dari pekerjaan ini jauh lebih baik dibandingkan saat suaminya masih bekerja sebagai supir angkot. Perekonomian keluarga pun perlahan membaik. Namun, musibah tak dapat dihindari. Suatu hari suaminya mengalami kecelakaan saat sedang mengendarai truk. Truk tersebut rusak sehingga pilihannya hanya dua: mengganti biaya kerusakan dengan sistem potong gaji atau diberhentikan dari pekerjaan. Suami Ibu Rotua memilih opsi kedua. Ia meninggalkan pekerjaannya.

Menopang Perekonomian dengan Usaha Kreditan

Saat perekonomian keluarga sedang jatuh dan suaminya sedang tidak bekerja, Ibu Rotua memberanikan diri untuk memulai usaha. Awal mula usaha berawal dari tawaran seorang teman yang mempunyai sebuah toko baju. Teman tersebut menawari Ibu Rotua untuk menjadi perpanjangan tangannya menjualkan baju-baju dagangan. Bisnis seperti ini umumnya dimulai dengan terlebih dahulu membeli baju untuk modal berdagang. Namun atas dasar kepercayaan, temannya mengizinkan Ibu Rotua mengambil baju dulu tanpa perlu membayar. Uang dari hasil penjualan baju baru dibayarkan pada pemilik toko setelah baju-baju tersebut laku terjual.

Untuk pengambilan stok baju berikutnya, Ibu Rotua memilih membayar di awal. Sebenarnya rekan bisnisnya tidak mempermasalahkan Ibu Rotua mengambil dagangan dulu baru kemudian membayar setelah dagangan tersebut laku. Namun karena tidak enak hati, Ibu Rotua mengupayakan sebisa mungkin untuk membayar di awal. Pinjaman
berikutnya dari KKI ia pakai untuk membayar kulakan baju. Ia pun mulai menambah barang dagangan yaitu tas jinjing yang dibelinya dari Pasar Senen. Tak kenal lelah Ibu Rotua berjalan berkeliling dari gang ke gang menjajakan barang dagangan. 

Karena dijual dengan sistem kreditan, usaha yang dijalankannya berjalan cukup lancar. Hal ini disebabkan masyarakat di sekitar Kalibaru merasa lebih mudah membeli barang dengan sistem kredit dibandingkan sistem bayar kontan. Usaha kreditan itulah yang kemudian justru menjadi sumber penopang perekonomian keluarga Ibu Rotua. 

Suka Duka Menjalani Tantangan

Pada tahun 2013, suami Ibu Rotua mendapat pekerjaan lagi. Kali ini sebagai pengangkut pasir. Di sinilah suami Ibu Rotua mulai menemukan peluang bisnis. Sembari bekerja di perusahaan pengangkut pasir itu, di luar jam kerjanya suami Ibu Rotua juga bekerja mandiri mengangkut pasir. Pinjaman keenam yang diajukan Ibu Rotua di KKI dipakai untuk modal suaminya membeli pasir. Pasir tersebut kemudian diangkut sendiri lalu dijual. Hasilnya lumayan. Hasil itulah yang kemudian terus diputar.

Selama suaminya bekerja sebagai pengangkut pasir, perekonomian keluarga Ibu Rotua kembali membaik. Biaya tunggakan kontrakan rumah selama 3 tahun akhirnya dapat dilunasi. Beruntung sang pemilik kontrakan sangat baik sehingga keluarga tersebut tetap diperbolehkan tinggal meski menunggak pembayaran. Selain itu, Ibu Rotua mulai bisa membeli kulkas, mesin cuci, dan sepeda motor. Roda kehidupan pun berputar. Tetapi tidak lama, tantangan kembali menghadang. Satu tahun bekerja sebagai pengangkut pasir, perusahaan tempat suami Ibu Rotua bekerja jatuh bangkrut. Suaminya terpaksa harus kembali berhenti bekerja.

Saat itu untuk memutar usaha kreditan baju lagi, Ibu Rotua sempat kehabisan modal. Di luar dugaan, sebuah tawaran bantuan datang. Kakak Ibu Rotua rela menjual kalungnya untuk modal usaha kreditan adiknya. Kalung tersebut laku dijual seharga 800 ribu rupiah. Uang tersebut kemudian dipinjamkan pada Ibu Rotua. Meski tidak enak hati untuk menerima, sejujurnya Ibu Rotua sangat membutuhkan uang itu. Ia lalu berjanji akan mengembalikan uang tersebut dalam cicilan 3 kali. Usaha kreditan baju pun berjalan lagi. Ibu Rotua kembali menjalani aktivitas hariannya berjalan keluar masuk gang di daerah Kalibaru untuk menawarkan barang dan mengambil setoran.

Titik Awal Rutin Menabung

Ibu Rotua ingat betul penjelasan petugas KKI pada saat rapat pertama, yaitu tentang pembiasaan menyisihkan uang. Petugas saat itu adalah Lucyana Siregar, salah satu pendiri KKI. “Waktu itu Bu Lucy pernah bilang, kalau sehari bisa jajan 2 ribu harusnya juga bisa menyisihkan uang 2 ribu untuk ditabung. Kalau sehari jajan 10 ribu berarti nabungnya juga harus 10 ribu,” kata Ibu Rotua menirukan apa yang disampaikan petugas KKI saat itu. Dari situlah ia mulai meniatkan diri untuk rutin menabung.

Sepulang dari rapat KKI, Ibu Rotua mampir ke warung membeli celengan. Sesampainya di rumah, keluarganya tertawa. Suami dan kedua anaknya geli melihat buah tangan yang dibawa Ibu Rotua sepulang dari rapat KKI. Bukan hal yang biasa memang. Kebiasaan pada umumnya, memiliki celengan di rumah adalah hal yang dilakukan anak-anak.

Ibu Rotua lalu menjelaskan pada keluarganya tentang rencananya untuk mulai rutin menabung. Tidak terduga, yang terjadi kemudian adalah suami dan anak-anaknya pun ikut menabung. Ibu Rotua membelikan celengan untuk masing-masing putrinya. Mereka pun mulai menyisihkan sebagian dari uang jajan mereka untuk ditabung. Suami Ibu Rotua lebih kreatif lagi. Ia membuat sendiri celengannya dari bahan bambu. Rupanya semangat menabung Ibu
Rotua menular ke suami dan anakanaknya. 

Celengan, Tabungan, dan Arisan

Sampai saat ini, kebiasaan menabung di keluarga Ibu Rotua masih terus berjalan. Selain menabung di celengan pribadi, Ibu Rotua juga memiliki tabungan di paket lebaran, BRI, dan KKI.

Tentang celengan milik suami Ibu Rotua, ada satu hal yang menarik. Ketika ditemui di rumahnya di Kalibaru, suami Ibu Rotua menunjukkan sebuah tabung pralon besar berukuran panjang sekitar 70 sentimeter. Pralon itu rencananya akan disulap menjadi celengan khusus. “(Penghasilan) setiap kali narik truk mau saya sisihkan 100 ribu. Selama setahun, kurang lebih uang akan terkumpul sebanyak 30 juta rupiah. Nah, uang itu rencananya akan saya pakai untuk DP membeli truk angkut,” kata suami Ibu Rotua. Dengan memiliki truk sendiri, penghasilan yang diperoleh meningkat 2 kali lipat. Harga truk 30 juta rupiah. Diperkirakan kurang lebih 5 tahun truk itu akan lunas. Selanjutnya, mereka akan menabung lagi untuk mewujudkan impian membeli rumah.

Manfaat KKI

“Selama 7 periode (3,5 tahun) menjadi anggota KKI, apa manfaat yang Ibu rasakan?” tanya petugas KKI.

“Tidak ada KKI artinya tidak ada SIM. Keadaan keluarga saya pasti berbeda dengan apa yang kami alami sekarang. Sejak punya pigura impian, setiap hari saya pandangi terus gambar itu setiap kali mau tidur,” jawab Ibu Rotua. Mungkin dari situlah ia menjadi semakin bersemangat untuk bekerja dan menabung. Sakit pun tak ia rasakan. Bagi Ibu Rotua, keluar masuk dari gang ke gang di Kalibaru sudah menjadi rutinitas yang menyenangkan.

“Obat buat saya itu semangat. Kalau saya istirahat, saya dapat duit dari mana? Nanti kalau kaki ini sudah tidak sanggup jalan juga saya akan berhenti,” kata Ibu Rotua. “Kalau saya semangat, penyakit itu nanti sembuh sendiri,” tambahnya. 

Jangan patah semangat, itulah moto hidup yang diyakini Ibu Rotua untuk tetap bertahan dan terus berjuang!