Ibu Jumilah dan Ibu Siti Nurhanan

Seperti Ibu, Seperti Anak

“…MERAIH MIMPI TAK SEMUDAH MEMBALIKKAN TELAPAK TANGAN. NAMUN JIKA DILAKUKAN BERSAMA DENGAN PENUH SEMANGAT DAN KEGEMBIRAAN, SEMUA AKAN LEBIH MUDAH DIWUJUDKAN…”

Keyakinan menjemput impian secara bersama-sama dilakukan oleh Ibu Jumilah dan Ibu Siti Nurhanan. Mereka adalah sepasang ibu dan anak yang menjadi anggota KKI. Pada pertengahan tahun 2015, Bu Jumilah tercatat sudah 2,5 tahun bergabung sebagai anggota KKI sedangkan Bu Siti sudah 2 tahun. Perjuangan mereka menuju kesejahteraan hidup yang lebih baik sangatlah menarik. Keduanya bersinergi untuk bisa saling melengkapi agar roda perekonomian keluarga bisa terus berputar.

Ibu Jumilah adalah orangtua dari Ibu Siti Nurhanan. Mereka tinggal serumah di daerah Tanah Merdeka, Cilincing. Satu rumah itu dihuni oleh Ibu Jumilah dan suami, Ibu Siti dan suami, serta satu balita, yaitu anak semata wayang Ibu Siti. Aktivitas harian Bu Jum dan Bu Siti adalah berdagang kue. Bermacam jajanan kue mereka buat lalu mereka titipkan ke lapak-lapak pedagang kue di pasar dan di warung warung rumahan.

Meski menggeluti area usaha yang sama, masing-masing menjalankan sendiri-sendiri usahanya. Jenis kue yang dibuat antara lain lemper, buras, pisang coklat, dan gorengan. Selain kue, mereka juga menjual kerupuk, opak, dan emping yang dikemas dalam bungkus plastik. Bu Jum biasa menitipkan jajanan di delapan lapak langganannya, sedangkan Bu Siti menitipkan dagangan di tujuh lapak yang berbeda dengan ibunya. Selain rutinitas tersebut, seringkali ibu dan anak itu mendapat pesanan kue untuk keperluan acara seperti pengajian dan syukuran

Satu Jam Saja

Satu jam adalah keseharian Bu Jumilah dalam menggunakan waktu 24 jam-nya untuk tidur. Ya, ia hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk tidur setiap harinya. Tentunya ini bukan hal yang baik untuk dicontoh. Namun setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda dan Bu Jum adalah salah satunya. Meski setiap hari hanya mengunakan satu jam untuk tidur, Bu Jum selalu tampak sehat dan bugar. Senyuman ramah selalu menghiasi wajahnya. Yang pasti, aktivitaslah yang membuatnya bahagia. Ia justru merasa tidak nyaman jika terlalu banyak berdiam.

Setiap hari, dari jam tujuh malam hingga jam empat pagi, Bu Jum beraksi di dapur membuat beraneka macam kue untuk dagangannya. Pukul lima pagi ia sudah beranjak ke pasar dan warung-warung untuk menitipkan kue-kuenya. Selesai menitipkan dagangan, ia belanja di pasar membeli kebutuhan dagangan untuk hari berikutnya. Sepulangnya ke rumah, biasanya ia tidur dari jam sembilan hingga jam sepuluh pagi. Siang hari ia sudah mulai bergerak lagi menggoreng kerupuk, opak, dan emping, lalu mengemasnya ke dalam plastik ukuran setengah kiloan.

Untuk urusan kerja, Ibu Jumilah memang istimewa. Sedari kecil ia sudah terbiasa bekerja. Ia juga seorang penyayang keluarga. Sedikit menengok ke belakang melihat masa kecil Bu Jumilah, ia adalah anak pertama dari 14 bersaudara. Sejak berusia 11 tahun ia sudah dituntut bekerja. Keadaanlah yang menuntutnya. Kedua orangtuanya saat itu bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak pasti. Baru dua minggu duduk di bangku kelas II di sebuah SD di Yogyakarta, Jumilah kecil tidak tega melihat orang tuanya banting tulang untuk menghidupinya dan adik-adiknya.

Sejak kecil, jiwa kepemimpinan sudah tertanam dalam dirinya. Sebagai anak sulung ia sadar betul orang tuanya sangat berat dalam menghidupi keluarga dengan anak yang banyak. Ia lantas memilih untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada salah satu tetangga jauhnya yang kaya raya. Setiap hari ia selalu mendapat jatah makan tiga kali dari tuannya. Yang selalu dilakukan Jumilah kecil adalah ia selalu menyimpan jatah sarapan dan makan siangnya untuk di bawa pulang ke rumah agar bisa diberikan ke adik-adiknya. Agaknya kasih sayang yang besar terhadap keluarga itu masih terus melekat kuat pada dirinya hingga tua. Juga semangat kerja yang begitu tinggi hingga membuatnya terbiasa untuk tidak bisa diam sampai-sampai hanya butuh waktu satu jam untuk tidur setiap harinya. 

Terjerat Pinjaman Bank Keliling

Modal awal untuk usaha yang dijalankan Bu Jum diperoleh dari meminjam di bank keliling. “Waktu itu saya pinjam 100 ribu cairnya 90 ribu karena dipotong biaya administrasi,” kata Bu Jum saat bercerita tentang pengalamannya pertama kali meminjam uang di bank keliling. “Setorannya harian. Setiap hari saya bayar 5 ribu selama 25 hari,” tambahnya. 10 tahun ia meminjam uang di dua bank keliling secara bersamaan. Sedangkan Bu Siti, 2 tahun ia meminjam di bank keliling. Sama alasannya: untuk modal usaha. Sebelum memulai usaha berjualan kue dan menitipkannya di warungwarung, ia bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) di Carrefour. Setelah menikah, ia memilih berhenti bekerja sebagai SPG dan menjalankan usaha sendiri yaitu dengan berdagang kue.

Usaha Bersama Anak dan Menantu

Tahun 2009, disamping Bu Jum dan Bu Siti tetap menjalankan usaha masing-masing, mereka bekerja sama untuk memulai usaha baru dibantu oleh suami Bu Siti. Mereka berjualan sate padang. Bu Siti sebagai pemodal, Bu Jum sebagai koki, dan suami Bu Siti sebagai penjual.

Gerobak sate padang mereka mangkal di depan sebuah toko material bangunan di daerah Pondok Bambu. Dagangan laku keras karena lokasi berjualan yang cukup strategis, yaitu dekat dengan Hero dan Giant supermarket. Setiap hari keuntungan bersih yang diperoleh bisa mencapai 320 ribu. “Modal untuk satu kilo daging 100 ribu. Kalau laku semua bisa dapat 260 ribu. Sehari rata-rata habis dua kilo daging,” kata suami Bu Siti. “Alhamdulillah sih seringnya habis terus,” ujar Bu Siti menambahkan. Usaha kolaborasi antar anggota keluarga itulah yang dirasa dapat memberikan keuntungan paling besar. Keuntungan pun mereka bagi bersama sesuai porsi masing masing berdasarkan kesepakatan sebelumnya.

Pertemuan dengan KKI

Pertengahan tahun 2013, Bu Jum diajak oleh tetangganya untuk bergabung menjadi anggota KKI. Mendengar apa yang disampaikan tetangganya bahwa KKI memberikan pinjaman untuk modal usaha dengan bunga ringan sekaligus memberikan tabungan, ia kemudian tertarik menjadi anggota. Perlahan ia mulai menyelesaikan pinjamannya di dua bank keliling (atau, rentenir) yang sudah 10 tahun menjadi mitranya.

Satu periode peminjaman di KKI berlangsung selama 25 minggu atau sekitar 6 bulan. Di periode berikutnya, Bu Jum mengajak anaknya, yaitu Bu Siti, untuk bergabung juga menjadi anggota KKI. Jadilah sepasang ibu dan anak itu tergabung di keanggotaan KKI.

Dengan adanya tambahan modal usaha, jenis jajanan kue yang mereka buat pun semakin beragam. Usaha bersama ibu-anak menantu dalam berjualan sate Padang pun masih terus berjalan, bahkan laku keras. Perkembangan itulah yang membuat penghasilan keluarga mereka semakin meningkat.

Belajar lagi Bersama KKI

Di KKI itu kayak sekolah lagi. Nggak cuma pinjem dan setor aja, di sini saya juga diajari ngirit biar bisa nabung,” kata Bu Siti saat ditanya tentang apa yang didapatnya selama bergabung menjadi anggota KKI. Ia juga menceritakan betapa saat itu ia berjuang keras untuk bisa ikut acara pencairan pinjaman sedangkan kondisinya sedang hamil tua. “Waktu itu pas pencairan pas perut saya mules-mules. Wah, keringat sudah segede biji jagung, saya masih harus jawab pertanyaan (dari petugas pencairan),” ujar Bu Siti mengenang masa lalunya. “Di KKI kan kalau mau cair harus bisa jawab pertayaan dulu. Ada ujiannya. Kayak sekolah,” kata Bu Siti sembari tertawa.

Ibu Siti mengaku bahwa sejak bergabung dengan KKI, ia jadi semakin bersemangat menabung. Ia dan ibunya bahkan berlomba lomba untuk menabung di KKI. Di KKI, selain anggota bisa menabung langsung di kantor, mereka juga diperbolehkan menabung seminggu sekali dititipkan ke ketua kelompok bersamaan dengan setoran mingguan. Bu Jum dan Bu Siti memilih opsi pertama. Kebetulan rumah tinggal mereka tidak terlalu jauh dari kantor KKI. Seminggu sekali mereka mendatangi kantor KKI untuk menabung. Terkadang berdua naik becak, terkadang jalan kaki.

Satu hal yang menarik adalah usai menabung, mereka saling cek saldo tabungan satu sama lain untuk membandingkan. Seru sekali tingkah sepasang ibu dan anak ini.

Dengan semakin bertambahnya jumlah tabungan, perlahan Bu Jum dan Bu Siti terbebas dari pinjaman di bank keliling. Untuk putaran modal, mereka sudah bisa menyisihkan dari keuntungan harian atau mengambil dari tabungan. Selain itu, perlahan tapi pasti mereka mulai bisa membeli rumah pribadi. Akhir tahun 2014 lalu secara hampir bersamaan Bu Jum dan Bu Siti membeli rumah secara kontan di kawasan Rawamalang. Bukan rumah yang besar memang. Bu Jum membeli sepetak rumah berukuran 3×3 meter seharga 6 juta rupiah sedangkan Bu Siti membeli rumah berukuran 3×9 meter seharga 20 juta rupiah. Kedua rumah itu berdekatan.

Bagi Tim KKI, kemajuan seorang anggota tidak hanya dilihat dari pencapaian material saja. Perubahan pola pikir ke arah yang lebih positif justru yang utama. Semangat Bu Jumilah dan Bu Siti dalam bekerja keras memajukan usaha serta menabung di KKI menunjukkan bahwa ketika niat kuat diiringi dengan usaha dan doa, hasilnya akan menjadi luar biasa. Itulah yang kemudian terjadi, mereka dapat mewujudkan mimpi keluarga.

Melengkapi Puzzle Mimpi Selanjutnya

Keinginan selanjutnya yang ingin diwujudkan oleh Bu Jum dan Bu Siti adalah mereka ingin membuka usaha bersama, yaitu warung makan yang lokasinya mereka rencanakan berada di depan rumah di Rawamalang. Lokasinya di dekat rumah susun Cilincing. Pagi, siang, sore, hingga malam, kawasan itu selalu saja ramai dengan orang-orang.

Menurut penuturan Ibu Jum dan Ibu Siti, rencananya warung mereka akan buka dari pagi hingga malam. Pagi jualan nasi uduk, siang jualan nasi rames, malam jualan mi rebus, kopi, susu, dan teh. Hal itu akan lebih memudahkan mobilitas mereka mengingat saat ini Bu Siti tengah memiliki anak balita dan usia Bu Jum yang semakin hari semakin menua.

Kini mereka sedang berjuang mengumpulkan modal agar rencana membuka warung nasi tersebut bisa segera diwujudkan. Sembari terus berdoa dan berusaha, mimpi besar itu sekarang sedang mereka upayakan. Jalan untuk meraihny memang cukup panjang dan berliku. Namun dengan semangat dan tekad yang kuat, mereka yakin akan bisa segera meraihnya.