Ibu Tuti

Bagaikan Roda Berputar, Jatuh Bangun Meraih Impian

“Seandainya saya ketemu KKI dari dulu mungkin saya udah punya banyak tabungan terus bisa nyekolahin anak saya yang pertama sampai sarjana.”

Kisah perjuangan Bu Tuti dimulai dari selembar uang dua puluh ribu, yang diberikan oleh seorang tetangganya untuk dijadikan modal awal usaha. Saat itu suaminya yang seorang kuli angkut pasir sedang terbaring lemah karena menderita sakit tipes. Berbekal uang tersebut, sebuah meja, termos, dan beberapa buah gelas plastik, Bu Tuti menjual kopi dan teh di sebuah tempat pengurukan pasir yang sering disebut Pangkalan Pasir. Ternyata dagangannya mendapat sambutan yang baik. Keesokan harinya, selain menjual kopi dan teh, ia juga mengambil dagangan dari tetangga berupa gorengan. Setiap sore ia mengantar bagi hasil keuntungan menjual gorengan ke tetangganya itu. Setiap hari ada saja dagangan baru yang ditambahkan. Hari berikutnya ada yang menitip jualan kue-kue seperti timus, lemper, dan makanan tradisional lainnya. Kemudian Bu Tuti menambah jualan air minum kemasan gelas dan botol. Terakhir ia sudah menambah jualan minuman dingin.

Kegigihannya mengetuk hati seseorang yang juga memiliki usaha di daerah Pangkalan Pasir. Ia membuatkan warung tenda untuk Bu Tuti agar bisa berjualan dengan nyaman. Syaratnya, suaminya harus menjaga barang-barangnya. Makin lama dagangannya makin ramai. Ia akhirnya berinisiatif membangun bale-bale dekat warungnya. Dari hasil kayu-kayu sampah laut suaminya membuat bale-bale tersebut. Setelah bale-bale itu jadi, makin banyak orang yang tertarik untuk datang ke warungnya.

Kehidupan selalu dipenuhi dengan ujian untuk membuat seseorang menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kehidupannya. Begitu pula Bu Tuti. Cobaan datang ketika ia sedang hamil tua. Saat itu Bu Tuti tidak bisa berjualan secara maksimal karena kondisi fisiknya yang lemah. Keadaan diperparah dengan kondisi suaminya yang kembali sakit dan membutuhkan bantuan Bu Tuti untuk merawat.

Saat itu Bu Tuti ditunjuk sebagai salah satu penanggung jawab tabungan harian di lingkungan rumahnya. Karena keadaan ekonomi yang sulit, ia terpaksa menggunakan uang tabungan beberapa orang yang dipegang olehnya. Hal ini membuat ia terlilit utang sejumlah Rp 3.700.000. Masa-masa melunasi utang itu adalah masa-masa terberat Ibu Tuti, karena ia mendapatkan banyak tekanan dan cemoohan dari tetangganya. Ia dianggap tidak amanah dalam menjaga uang. Setelah sepuluh bulan dalam bayang-bayang utang, akhirnya ia bisa melepaskan diri dari jeratan utang yang melilitnya. “Kalau saya inget saat-saat itu rasanya saya pengen nangis. Setiap hari saya harus bayar cicilan utang Rp 20.000. Nyesek banget hati saya karena uang segitu gak gampang nyarinya. Udah gitu banyak tetangga yang ngomong yang enggak-enggak,” kata Bu Tuti dengan berderai air mata.

Mendapat pencerahan melalui persiapan kelompok

Melunasi utang ternyata belum memulihkan nama baik Bu Tuti di lingkungannya. Keadaan itu membuatnya semakin susah mencari tambahan modal untuk usahanya. Gunjingan dari lingkungan sekitar juga membuat Bu Tuti merasa makin terpuruk. Di saat ia sedang sangat membutuhkan modal usaha, pertolongan datang dari Koperasi Kasih Indonesia. Saat itu Ibu Yus dan Ibu Lucy dari KKI datang menawarkan Bu Tuti untuk bergabung. Bu Tuti dari awal sudah menjelaskan bahwa ia memang pernah terlibat masalah yang membuat dirinya terlilit utang. Ia juga bercerita kalau permasalahan itu membuatnya kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan dari pemberi modal usaha.

Untunglah KKI memutuskan untuk memberi kesempatan pada Bu Tuti untuk bergabung di KKI. KKI berjanji untuk membantu Bu Tuti dengan memberikan modal usaha. Setelah petugas KKI menyurvei usaha dan menyetujui pengajuan pinjaman Bu Tuti, ia pun mengikuti acara pengarahan pertama yang disebut Persiapan Kelompok Satu (PK I).

Ibu enam orang anak ini mengaku sangat terbuka pikirannya setelah mendengar penjelasan di PK I. Bila sebelumnya rasanya sangat sulit untuk mewujudkan mimpi, setelah mengikuti acara PK I Bu Tuti merasa yakin bahwa mimpinya bisa terwujud. “Saya benar-benar terharu dan dikuatkan saat pengarahan yang pertama. Cerita-cerita orang-orang di KKI benar-benar menyentuh saya. Cerita Bu Lucy dan keluarganya bikin saya yakin kalau mau berjuang kita pasti bisa mewujudkan mimpi,” ceritanya sambil mengelap air mata yang terus berjatuhan dari kedua kelopak matanya.

Persiapan Kelompok Satu menguatkan hatinya untuk mewujudkan mimpi. Hal itu membuat pinjaman awal sebesar Rp 500.000 yang didapatkannya ia gunakan untuk menambah barang jualannya dan menambah usaha nasi dan laukan.

Bangkit mengejar impian

Lama-kelamaan usahanya menjadi maju kembali. Pinjaman kedua ia gunakan untuk membeli etalase untuk dagangannya, sehingga makanan yang disajikan lebih bersih dan terhindar dari debu-debu jalanan. Bu Tuti bukan hanya memanfaatkan pinjaman dari KKI. Ia juga menerapkan ilmu yang diberikan pada saat PK I. Setiap kali mencicil setoran, ia akan usahakan untuk menabung. Ia juga berusaha untuk mengirit pengeluaran dengan mengurangi jajan anak. Selain itu ia juga mengajarkan anaknya untuk tidak menghabiskan uang yang diberikan. Anak-anak Bu Tuti pun menjadi terbiasa menabung. Usaha kerasnya membuahkan hasil, saat ini ia dapat membeli televisi dan mesin cuci. Dua benda yang mustahil ia beli bila tidak mengelola keuangan dengan baik.

Usaha maju tidak membuat Bu Tuti berpuas diri. Ia terus berpikir usaha apa lagi yang bisa ia lakukan untuk keluarganya selain membuka warung nasi lengkap dengan jualan makanan kecil, gorengan, dan minuman dingin. Kemudian ia melihat peluang usaha yang lain. Saat pinjaman keenam Bu Tuti mulai menjual barang-barang elektronik secara kredit.

Bu Tuti ingin segera mewujudkan impian lainnya. Ia berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya yang kecil sampai kuliah dan ingin memiliki toko yang besar. Namun cobaan datang kembali menjelang lebaran di awal Bulan Juli tahun 2014. Saat itu warung tempat ia biasa berjualan harus digusur karena ada pembangunan. Untungnya ia memiliki tabungan di KKI sehingga ia bisa menggunakan uang itu untuk memindahkan warungnya dari Pangkalan Pasir ke depan rumahnya.

Penuh syukur menjadi anggota Koperasi Kasih Indonesia

Layaknya sebuah roda berputar, kehidupan pun terus berputar. Setelah berbagai cobaan berat yang menghantam kehidupan Bu Tuti, saat ini ia sudah mulai dapat menikmati hasil jerih payahnya.

Pada tahun 2013, anaknya yang kelas 1 SMK terpilih menjadi 1 dari 9 anak anggota KKI yang mendapatkan beasiswa CIMB Niaga-KKI, yang memberikan dukungan biaya pendidikan selama 3 tahun bersekolah. Hal ini membuat Bu Tuti sangat bahagia. Ia begitu bersyukur bisa bergabung menjadi anggota KKI. “Saya pernah bilang sama Pak Leon, kenapa baru ketemu KKI sekarang waktu saya udah punya anak banyak. Kalau saya ketemu KKI dari dulu mungkin saya udah punya banyak tabungan terus bisa nyekolahin anak saya yang pertama sampai sarjana. Saya benar-benar bersyukur sama Allah ketemu KKI,” jelasnya sambil tersenyum. Menurutnya KKI telah membuat pola pikirnya berubah. Ia menjadi orang yang selalu bersemangat dan yakin bisa meraih mimpi-mimpinya.

Ilmu-ilmu yang diberikan oleh KKI juga membuat dirinya mampu mengajarkan anaknya untuk berpikiran terbuka. Anak-anaknya yang pertama dan kedua berniat untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. “Saya bilang walau kamu harus kerja dulu tapi kamu harus tetap niatin untuk kuliah,” ucap Bu Tuti menutup pembicaraan siang itu. SEMANGAT SELALU, Ibu Tuti!