Ibu Ekawati

Menerobos Batas-Batas Impian

“Mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dijangkau. Ia bisa diraih dengan upaya keras dan doa yang kencang”

Jatuh Bangun Kehidupan

Menginjak bising dan kerasnya Kota Jakarta dimulai Ibu Ekawati dari tahun 2010. Ia pergi meninggalkan kampung halamannya di Indramayu dengan suami dan anak-anaknya. Pertama kali datang, ia tinggal di Semper, Jakarta Utara. Ia memulai kehidupannya dengan mengontrak satu petak rumah di daerah sana. Suaminya bekerja di pelabuhan bagian penyegelan dan Bu Ekawati saat itu bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di industri pakaian. Tak lama tinggal di sana, ia pun pindah ke daerah Cilincing.

Setelah pindah kontrakan, Bu Ekawati berhenti bekerja dan memulai usaha jualan jajanan makanan anak seperti sosis goreng, nuget, baso dan lain-lainnya. Ia rajin menyisihkan keuntungan untuk ditabung. Namun karena kontrakan tempat mereka tinggal ini dianggap suaminya terlalu dekat dengan kehidupan malam, mereka pun berencana untuk pindah kembali. Di dalam hati, Bu Ekawati merasa lelah mengontrak dan ingin memiliki rumah sendiri.

Berbekal hasil tabungan yang ia simpan dari sebagian gaji suaminya dan keuntungan berjualan, Ibu Ekawati mewujudkan mimpinya di awal tahun 2011. Ia membeli rumah sederhana milik kakaknya seharga Rp 25 juta di daerah Pengasinan Ikan, Cilincing dengan cara dicicil. Pembayaran awal sebesar Rp 15 juta dan empat bulan kemudian ia melunasi pembayaran sebesar Rp 10 juta. Rumah di pinggir pantai itulah yang menjadi saksi perkembangan hidup mereka selanjutnya. Ia bersyukur akhirnya tidak mengontrak lagi.

Namun sayangnya, tak lama kemudian suaminya beralih profesi menjadi seorang buruh serabutan. Hal ini membuat roda perekonomian mereka sedikit terguncang. Penghasilan suaminya tidak lagi seperti sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga mereka.

Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut membuat Bu Ekawati tidak betah berdiam diri. Ia akhirnya meneruskan usaha yang sudah ia rintis sebelumnya. Ia membuka warung nasi kecil di pinggir jalan dan sekaligus mulai menjual secara kreditan barang-barang elektronik seperti handphone, TV, dan lain sebagainya, sesuai dengan permintaan pelanggan.

Terketuk hati melalui Pigura Impian

Saat usaha Bu Ekawati sedang membutuhkan tambahan modal itulah hadir salah satu petugas Koperasi Kasih Indonesia yang menawarkannya untuk bergabung. Ia pun mengikuti acara Persiapan Kelompok Satu dengan Pak Ferry, Kepala Cabang KKI kala itu. Acara PK I itulah yang menyadarkan dirinya mengenai bagaimana cara mewujudkan mimpi. Salah satu hal yang membuat ia tersentuh adalah saat Pak Ferry menjelaskan tentang Pigura Impian. Saat dijelaskan mengenai Pigura Impian ia langsung terpikir beberapa mimpi yang selama ini ia idam-idamkan namun terkadang timbul tenggelam di tengah kesibukannya berjualan.

Selama acara pengarahan itu hati dan pikirannya benar-benar terketuk. Bu Eka mendapat keyakinan bahwa ia bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. “Saya memang udah punya rumah, dek. Tapi rumah di daerah Pengasinan itu kurang nyaman. Tadinya saya merasa mimpi saya ketinggian, tapi denger Pak Ferry cerita tentang Pigura Impian, tentang menghemat jajan anak, trus tentang menabung, saya jadi bersemangat. Saya pasti bisa!” cerita Bu Ekawati dengan tersenyum.

Terus berjuang mewujudkan mimpi

Pinjaman awal sebesar Rp 1 juta digunakan Bu Eka untuk membeli barang-barang elektronik pesanan pelanggan dan memperbanyak barang dagangan di warungnya. Selain itu, semangat menabungnya makin tinggi semenjak masuk KKI. Dari setiap keuntungan yang ia raih, antara Rp 50.000-Rp 150.000 akan disimpan di tabungan harian yang disetorkan pada tetangganya setiap hari.
Tidak terasa, berbekal tabungan dan juga pinjaman dari keluarganya, ia kemudian dapat membeli sebuah rumah di daerah Kalibaru, Cilincing seharga Rp 100 juta. Rumah tua yang ukurannya sangat besar tersebut dibayarkan Bu Eka dengan mencicil. “Saya sempat merinding kalau ingat saat-saat itu. Saya cuma pegang 1,5 juta aja tapi pengen beli rumah. Setiap hari saya lihat Pigura Impian dan saya doain tiap malam. Jam 2 malam saya kompakan bangun sama suami. Kami gak tidur lagi tapi terus-terusan Shalat Tahajud minta dilancarin usaha dan niat kami. Kalau bukan minta sama Allah sama siapa lagi,” katanya dengan mata menerawang teringat kembali kisahnya dulu.

Kemajuan luar biasa

Alhamdulillah, rumah itu akhirnya dapat dilunasi dari hasil usahanya. Modal yang ia punya diputarkan untuk membeli barang-barang pesanan. Sebagian keuntungan ia simpan dalam bentuk emas. Uang tabungan dan emas yang ia miliki itulah yang akhirnya digunakan untuk melunasi rumah. Namun Bu Eka melihat rumah tersebut belum layak huni. Ia pun kemudian menjual bagian belakang rumahnya seharga Rp 70 juta. Uang itu ia gunakan untuk membongkar dan membangun bagian depan rumah. Di lantai atas rumah, Bu Eka membuat 2 kamar untuk dikontrakkan, masing-masing Rp 400.000 per bulan. Bukan hanya itu saja, Bu Ekawati pun terus memutar otaknya untuk mencari peluang bisnis baru.

Pada periode kedua, ia kemudian membeli mobil Xenia secara kredit seharga Rp 35 juta dengan cicilan Rp 4.960.000 per bulannya. Uang pinjaman dari KKI, uang tabungan, dan pinjaman dari keluarga ia pergunakan untuk membeli mobil itu. Ia membeli mobil untuk bisa disewakan lagi. Menurut Bu Ekawati, penghasilan yang ia dapatkan dari menyewakan mobil cukup lumayan. Bila ia masukkan ke rental mobil per bulannya ia bisa mendapat Rp 3,5 juta tetapi kalau ia sewakan sendiri per harinya ia terima Rp 350.000.

Kegigihan Bu Ekawati dan juga kemampuannya yang luar biasa dalam melihat peluang usaha membuatnya memutuskan untuk membeli satu buah mobil bak seharga Rp 70 juta, dengan cara dicicil. Mobil itu digunakan suaminya untuk mengangkut kayu-kayu bekas secara borongan. Jika sebelumnya suaminya bekerja serabutan dengan penghasilan yang kurang menentu, saat ini suaminya mendapat penghasilan harian dari mengangkut kayu-kayu. Satu kali angkut bisa mendapat keuntungan bersih Rp 200.000 per bak mobil. Dalam satu hari ia bisa mendapat bongkaran kayu sebanyak lima sampai enam kali. Kayu-kayu hasil bongkaran kapal atau rumah itu juga bisa ia jual seharga Rp 50.000 per gerobak.
Saat ini Bu Ekawati dan suaminya bisa tersenyum cerah menikmati usaha keras mereka selama ini. Namun ia masih belum mau berhenti berjuang. Masih ada mimpi-mimpinya yang belum terwujud. Salah satunya ia ingin sekali berangkat ke Tanah Suci bersama sang suami. Ia begitu mengidam-idamkan untuk bisa memenuhi panggilan Ilahi untuk bertamu ke rumah-Nya. “Ya masih ada beberapa mimpi, dek. Mau saya perjuangin terus. Salah satunya saya pengen lihat Ka’bah. Minimal umrohlah. Doain ya dek supaya cepet-cepet terkabul,” pinta Bu Ekawati penuh harap. Ia terus mengingat mimpinya dan bersemangat untuk mewujudkan mimpinya.
SEMANGAT dan PASTI BISA, Ibu Ekawati!